Cerita Sex Dewasa Nikmatnya Kontol Tetangga Baruku

 

Dalam kisah ini aku ingin menceritakan kisahku sendiri, dimana aku tidak mampu untuk aku pendam sendiri. Sebagai seorang wanita sudah sepantasnya di usiaku yang sudah menginjak 31 tahun sudah menikah atau setidaknya sudah dapat menikmati hubungan intim seperti dalam cerita sex dewasa, tapi hal itu belum pernah aku lakukan karena aku begitu pemalu dan juga begitu dingin pada setiap pria yang mencoba mendekati aku.

Aku memang merasa kurang percaya dengan bobot tubuhku, yang beratnya 54 kg sedangkan tinggiku berkisar 156 cm. Sebenarnya banyak yang bilang kalau tubuhku terlihat sintal dengan berat seperti itu, tapi aku merasa kegemukan dan merasa kurang percaya diri. Bahkan temanku bilang kalau aku memiliki wajah yang begitu cantik dia menyuruhku untuk membuang rasa kurang percaya diriku.

Hingga datang seorang tetangga baru, dia seorang duda dengan anaknya yang masih balita. Namanya Herman karena dia kelihatan masih muda akupun memanggilnya mas herman, akuoun mendengar dari mama kalau usianya memang masih 38 tahun. Dan di tinggal mati istrinya serta memilih pindah untuk tidak berlarut-larut mengenang dan memilih untuk tinggal di tempat yang baru.

Hingga diapun membeli rumah yang sebelumnya memang di huni keluarga herianto tetangga lamaku, karena mamaku memang sebagai RT di komplek ini, mas herman sering bolak balik rumahku untuk mengurus kepindahannya hingga akhirnya kamipun saling mengenal. Ketika aku main ke rumahnya untuk mengantar berkas yang disuruh mama, akupun mengenal putri kecilnya yang begitu manis dan lucu.

Aliya namanya, umurnya masih 4 tahun tapi begitu menggemaskan, aku yang memang tidak memiliki adik ataupun keponakan yang masih kecil. Akhirnya sering main dengan Aliya walaupun awalnya aku tidak meyangka sama sekali kalau akhirnya aku akan melakukan adegan seperti dalam cerita hot dengan papanya mas Herman, padhal di antara kami tidak pernah terucap kata cinta sama sekali.

Hari itu kami baru datang dari jalan-jalan di sebuah pantai karena kami memang pergi bertiga. Sampai di rumah mas Herman akupun merasa kecapekan dan tertidur disana. Awalnya aku tertidur di sofa ruang tengahnya, tapi ketika aku membuka mataku ternyata aku sudah berada di dalam kamarnya, aku kaget segera aku bangun dan hendak meninggalkan kamarnya mas Herman.

Tiba-tiba dia datang ke dalam kamarnya “Hei sudah bangun…” Katanya padaku akupun menjawab “Iyaa… mas” Kataku singkat dan segera menuju pintu kamar, tapi kakiku kesandung kaki mas Hendri mungkin karena aku gugup belum pernah di dalam kamar seorang pria, berdua pula untungnya mas Herman begitu sigap langsung memegang tubuhku hingga aku tidak terjatuh.

Namun saat itu juga mata kami saling beradu dan dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa aku duga sebelumnya mas Herman kemudian mencium bibirku yang langsung bergetar kala itu, tapi mas Herman mungkin tahu kalau aku tidak ada pengalaman sama sekali tentang hal itu karena itu dia perlahan mencium lalu melumat bibirku. Sedangkan aku seperti patung yang tidak mampu berkutik.

Sampai akhirnya akupun tidak sadar kalau mas Herman sudah mengangkat tubuhku lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Dia berbisik kepadaku “Sayang maukah kamu menjadi ibu dari anakku..?”Sebagai wanita dewasa yang belum pernah mendapat perlakuan seperti ini dari seorang pria, akuoun menjadi tersipu malu tapi aku juga begitu senang mendengar kata-kata mas Herman tadi.

Diapun kembali mendaratkan bibirnya pada bibirku sambil tangannya menyentuh bagian sensitifku “OOouuggghhh… eeeuuuummmccchhhh… aaagggghhh… aaagggghhh… aaagggghhh … aaaaagggghhhhh..” Kataku padahal baru bagian leher saja yang di sentuh mas Herman dengan bibirnya tapi aku sudah tidak kuat menahannya, apalagi kini bibir mas Herman semakin kebawah.

Begitu sampai di depan buah dadaku dia perlahan mendaratkan bibirnya pada gundukan dadaku itu “Ooouuuwwwww…. aaagggghhh.. aaagggghhh… maaaasss… aaagggghh…” Mas Herman akhirnya melakukan inti dari permainan ini. Ia melepas bajuku dan aku hanya bisa melihatnya bahkan aku memang mengharapkan hal ini, karena nikmat yang aku rasakan baru kali ini aku tahu.

Perlahan namun pasti mas Herman mengacungkan kontolnya pada memekku “Oouuwww… pelaaan maaas.. aaaku beluuum pernaaaah… aaagggghhh… aaaaagggghhh… aaaaggghh… aaaggghhhh…” Akhirnya akupun tidak dapat berkata apa-apa lagi yang ada hanya kenikmatan dan kenikmatan yang tiada tara, mas Herman tersenyum kemudian dia kembali memelukku sambil terus menghentakan kontolnya.

Hingga tidak lama kemudian akupun mendengar dia mengerang keras bahkan sampai mendongakan kepalanya “OOouuugggggghhhh… uuugggghh… uuuggghhh… sayaaaaang… aaaaagggghh… aaaggggggghh… aaaggghhh…” Diapun mencium wajahku berulang kali dan akupun tahu kalau dia sudah mencapai klimaks sedangkan aku sendiri tidak tahu kapan mencapai puncak kenikmatan itu.

Karena dari tadi aku sudah merasakan kenikmatan yang begitu tidak dapat aku ungkap dengan kata-kata. Mas Herman memeluk tubuhku dan aku tidak malu lagi untuk melakukan hal yang sama padanya, sejak saat itu kami menjalin hubungan bahkan mas Herman berencana menikahiku karena dia takut kalau sampai aku hamil. Karena kami sering melakukan hal itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *